Segudang Manfaat Flavonoid Untuk Kesehatan Tubuh


Nama flavonoid mungkin masih terdengar asing oleh sebagain orang, lalu apa sih flavonid itu?. Flavonoid adalah salah satu jenis antioksidan yang banyak terkandung dalam cokelat, seperti yang telah banyak di ketahu antioksidan memiliki manfaat yang baik untuk kesehatan yakni bekerja dalam menangkal radikal bebas dalam tubuh. Selain dalam coklelat, masih banyak lagi makanan yang memiliki kandungan flavonoid di dalamnya. Penasaran apa saja manfaat flavonoid, dan dari mana saja Anda bisa mendapatkan antioksidan ini? Berikut ulasannya.

Di bawah ini saya akan mencantumkan beberapa jenis makanan yang terbukti memiliki kandungan flavonoid tinggi yang tentunya baik untuk di konsumsi :


  1. Rosella. Ekstrak rosella dipercaya baik untuk mengobati kolesterol tinggi, hipertensi, dan diabetes tipe 2. 
  2. Apel. Di dalam apel terkandung flavonoid bernama quercetin yang dapat mencegah serangan jantung, mencegah katarak, mengendalikan asma, dan mempercepat pemulihan kenaikan asam lambung.
  3. Red wine kaya akan kandungan flavonoid yang dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Jika Anda tidak minum alkohol, manfaat flavonoid yang sama dapat Anda raih dari mengonsumsi anggur ungu segar. Kandungan flavonoid ini terdapat pada kulit anggur.
  4. Sirsak. Buah sirsak kaya akan fenol (sejenis flavonoid), potasium, vitamin C, dan E yang dikatakan berkhasiat untuk mengobati beberapa penyakit seperti kanker dan hipertensi. Antioksidan pada sirsak juga dapat membantu menangkal radikal bebas.
  5. Belimbing wuluh tinggi Vitamin C, asam oksalat, tannin, asam amino, dan flavonoid yang dipercaya bermanfaat mengobati hipertensi, kolesterol tinggi, kanker, dan diabetes. Namun hati-hati jangan kebanyakan belimbing wuluh karena buah ini mengandung banyak asam oksalat yang dapat memicu batu ginjal atau memperparah konsisi gagal ginjal akut jika dikonsumsi kebanyakan.
  6. Kacang kedelai. Salah satu sumber flavonoid yang tinggi terdapat pada kacang kedelai. Beberapa penelitian menyatakan bahwa kacang kedelai diduga bermanfaat mencegah kanker payudara, membantu menurunkan kadar gula darah tinggi, mengurangi kolesterol, dan membantu meredakan gejala menopause. Namun manfaat flavonoid yang satu ini masih perlu diteliti lebih lanjut.
  7. Selain itu, flavonoid juga banyak ditemukan pada sumber makanan atau minuman lain seperti teh hijau, jeruk, pare, rempah, dan biji-bijian.


Satu hal yang harus selalu di perhatikan, flavonoid akan terasa lebih besar manfaatnya, jika Anda langsung mengkonsumsinya dalam bentuk alaminya, bukan di konsumsi dalam bentuk suplemen. Karena sampai saat ini belum ada penelitian yang mengatakan secara gamblang jika suplemen flavonoid benar bermanfaat.

Terlebih lagi, banyak suplemen flavonoid yang mengandung dosis tinggi, bukannya sehat flavonoid justru dapat membahayakan kesehatan. Terutama untuk ibu hamil dan menyusui serta anak-anak. Kadar flavonoid yang di luar batas wajar dapat masuk ke dalam plasenta yang dapat berbalik berdampak negatif pada tumbuh kembang janin dalam kandungan. Agar lebih amannya, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mencoba-coba konsumsi suplemen apapun selama kehamilan.

Selain itu, Anda juga perlu berhati-hati saat mengkonsumsi obat-obat tertentu, flavonoid dapat berinteraksi dengan beberapa obat. Misalnya saja, kandungan flavonoid naringenin dalam jeruk bali terbukti dapat mengganggu kinerja obat. Jika Anda masih merasa ragu mengenai manfaat dan risiko flavonoid bagi kesehatan, jangan ragu untuk selalu konsultasikan pada dokter untuk mendapatkan saran terbaik.

Selain beragam keuntungan di atas, ada segudang manfaat flavonoid lain yang sama luar biasanya untuk tubuh Anda, di antaranya:


  • Membantu tubuh menyerap vitamin C dengan lebih baik
  • Membantu mencegah dan/atau mengobati alergi, infeksi virus, arthritis, dan kondisi peradangan tertentu.
  • Dapat memperbaiki sel yang rusak akibat radikal bebas.
  • Mampu meningkatkan gejolak suasana hati yang diakibatkan oleh gangguan mood hingga depresi.
  • Menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular, namun hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Komentar